Berita >> Ketika Alam Menguji, Manusia Memulihkan: Penanaman Kembali Mangrove yang Hilang

Ketika Alam Menguji, Manusia Memulihkan: Penanaman Kembali Mangrove yang Hilang

5 bulan yang lalu | Muhammad Ifandi | Dibaca 26 Kali
Gambar Andalan

ARTIKEL POPULER


🌱Ketika Alam Menguji, Manusia Memulihkan: Menanam Kembali Mangrove yang Hilang

Dusun Airport di Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, merupakan bagian dari kawasan konservasi mangrove. Kawasan ini dijaga secara khusus karena punya peran besar dalam melestarikan hutan mangrove menjadi tempat wisata dan menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Upaya ini penting agar alam tetap terjaga dan manfaat mangrove bisa terus dirasakan oleh masyarakat sekitar.

> “Terik matahari masih menggantung di langit sore ketika kami tiba di lokasi. Di ujung rawa, berdiri sunyi akar mangrove yang telah hangus. Petirlah yang telah merobohkannya. Tapi bagi kami, itu bukan akhir—melainkan ajakan untuk memulai kembali.”

Tak semua pengabdian harus dimulai dengan keramaian. Di minggu kelima pelaksanaan KKN, kelompok 5 KKN Bina Desa 2025 memutuskan mengisi hari dengan menanam ulang mangrove. Tanpa upacara dan tanpa sosialisasi. Hanya kami bersembilan dan kepala dusun Airport, sendal berlumpur, bibit mangrove di tangan, dan satu tujuan kecil: menggantikan yang telah tumbang. Beberapa mangrove yang telah ditanam sebelumnya tersambar petir di tengah hujan malam, dan ditemukan telah roboh, batangnya gosong, dan akarnya lepas dari tanah.

Bibit baru didapatkan dari pembibitan warga lokal. Menggali lumpur yang sama, menancapkan akar muda dengan hati-hati, dan mengikat dengan bambu penyangga. Diam-diam, kegiatan terasa lebih khusyuk dari banyak acara seremonial yang pernah dihadiri.

> "Tak sampai 2 jam. Lubang digali, bibit ditanam, dan batangnya diikat pada patok bambu penyangga, selesai. Tapi bagi kami, momen itu lebih dari sekadar aktivitas.”

Petir memang tidak bisa dicegah. Tapi bukan berarti berhenti menanam. Penanaman ulang bukan semata soal mengganti pohon, tapi soal menghormati upaya yang pernah dilakukan. Bahwa di antara pasang dan surut, yang penting adalah keberlanjutan.

> “Kami tahu, bisa saja pohon ini kembali disambar, atau hanyut saat banjir pasang. Tapi tetap kami tanam, karena begitulah cara harapan tumbuh: dengan keberanian untuk mencoba lagi.”

Menanam 50 pohon mangrove mungkin tak akan masuk berita. Tapi ketika dilakukan dengan kesadaran penuh, akan menjadi catatan kecil tentang cinta: kepada bumi, kepada masa depan, dan kepada mereka yang pernah mencoba lebih dulu.

> “Kelompok ini memang tak menggelar seremoni, tidak juga membawa warga setempat. Tapi tekat mereka untuk datang, menggali, dan menanam ulang, merupakan hal yang patut diapresiasi. Dan semoga, kali ini, pohon mangrove tumbuh lebih kuat.” ucap kepala dusun Airport

Kegiatan

Komentar


Tinggalkan Komentar :