Dusun Airport

Sejarah Dusun Airport berawal dari perkembangan Desa Sangkima yang dulunya masih berupa kampung kecil di bawah administrasi Kota Bontang pada sekitar tahun 1970. Pada masa itu, Desa Sangkima dipimpin oleh Kepala Kampung Untung Suropati. Seiring berjalannya waktu, wilayah ini mulai berkembang menjadi dusun dengan lima RT pada tahun 1984. Berkat dorongan tokoh masyarakat, pada tahun 1987 Sangkima ditetapkan sebagai Desa Persiapan, dan akhirnya pada tahun 1996 melalui SK Menteri Nomor 140/SK.406.A/1996, Sangkima resmi menjadi desa. Setahun kemudian, statusnya ditingkatkan menjadi desa definitif. Sejak saat itu, Desa Sangkima terus berkembang, hingga saat ini terbagi dalam sembilan dusun dengan 26 RT, salah satunya adalah Dusun Airport.

Nama Dusun Airport sendiri berasal dari keberadaan sebuah bandara yang pernah berdiri di wilayah ini. Bandara tersebut dibangun oleh Pertamina EP Sangatta Field sebagai fasilitas pendukung operasional perusahaan migas. Landasan pacu bandara memiliki panjang sekitar 1.000 meter dengan lebar 18 meter, dan sempat difungsikan untuk penerbangan carter, termasuk rute dari Balikpapan ke Sangatta. Namun, meskipun memiliki peran penting, pengembangan bandara ini tidak pernah selesai. Pembangunan fasilitas penunjang seperti terminal tidak terealisasi karena terkendala status lahan yang masih dikuasai Pertamina, serta posisinya yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Kutai (TNK).

Sejak saat itu, lahan bekas bandara ini menjadi identitas tersendiri bagi masyarakat sekitar, hingga wilayah di sekitarnya kemudian dikenal dengan nama Dusun Airport. Walaupun rencana untuk menjadikan bandara ini sebagai fasilitas penerbangan resmi daerah sempat muncul berulang kali, kendala hukum dan regulasi kawasan konservasi membuat rencana tersebut tidak dapat diwujudkan. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bahkan sempat berupaya melobi agar lahan tersebut bisa dialihfungsikan, namun hingga kini tetap berstatus sebagai bagian dari kawasan TNK.

Secara administratif, Dusun Airport terbagi menjadi tiga Rukun Tetangga (RT), yaitu RT 16, RT 17, dan RT 18. RT 18 dikenal sebagai Kampung Baru yang terletak di kawasan Teluk Lombok. Akses menuju dusun ini semakin terbuka sejak adanya pembangunan jembatan yang menghubungkan Dusun Airport dengan Dusun Teluk Lombok, sehingga mobilitas warga menjadi lebih mudah. Masyarakat di Dusun Airport sebagian besar berprofesi sebagai nelayan, meski ada juga yang bekerja di sektor informal lainnya. Kehidupan sosial masyarakat ditandai dengan semangat gotong royong, yang tercermin dalam upaya bersama memenuhi kebutuhan dasar seperti penyediaan air bersih dan pembangunan infrastruktur sederhana.

Kini, meskipun bandara lama sudah tidak beroperasi, Dusun Airport tetap menjadi wilayah penting di Desa Sangkima. Identitas historisnya sebagai bekas kawasan bandara berpadu dengan potensi alam pesisir dan hutan mangrove di sekitarnya, menjadikan dusun ini tidak hanya kaya akan sejarah, tetapi juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan di sektor ekowisata dan pemberdayaan masyarakat.